Nawacita Indonesia dalam MEA: Oto Kritik dan Saran Literasi

Fokus garapan Komunita kali ini sungguh dahsyat karena dilatari “gugatan” presiden Joko Widodo sekaitan dengan kecenderungan akademisi Perguruan Tinggi (PT) Indonesia yang elitis, kemudian ditingkahi gagasan Dirjen Belmawa Prof. Intan Ahmad, PhD., yang menginginkan pemenangan zaman melalui “Adaptasi Diri dan Pembelajaran yang Mencerahkan”. NawacitaIndonesia—dalam tulisan ini– dimaknai secara longgar untuk merujuk pada “peningakatan produktivitas”, dan “MEA” dipandang sebagai konteks kompetisi antarnegara anggota ASEAN dalam bekerjasama dan mengembangkan diri.

Oleh karena besarnya topik ini, dalam forum yang terbatas ini, kita kemudian tak dapat mengelak dari mengadopsi strategi salah yang kita lakukan berulangkali— yakni berpikir normaif (baca simplistik) dan menggelar gagasan yang bersifat general (yang berarti mengawang-awang) lagi. Meskipun demikian, kita masih pantas untuk berharap bahwa wacana kebersamaan kita akan memberi kita peluang untuk saling mengingatkan dan belajar dalam naungan niat baik antaranggota komunitas pembelajar.

Dengan niat ingin turut urun rembug dalam pembicaraan penting ini, dalam artikel singkat ini sayamenyoroti beberapa kelemahan kita sebagai negara-bangsa dan mengajukan pikiran alternatif sebagai solusi bagi pemecahan beberapa masalah kronis praktik kultural kita selama ini.

Beberapa Praktik Kultural Indonesia yang Problematis

Gonta-ganti kurikulum dan serentetan kebijakan dan aturan yang menyertainya, dalam praktiknya, nyaris sama dengan kesia-siaan yang mahal. Setiap kali ada perubahan pada tahap ini para guru dan dosen terbelokkan perhatiannya pada masalah administrasi dan sedikit saja yang menukik kepada masalah pembelajaran yang sebenarnya, yang terjadi di dalam kelas. Apa yang terjadi di kelas? Dari suatu masa pelaksanaan kurikulum yang satu ke kurikulum yang lainnya, guru dan dosen tetap memosisikan diri sebagai pusat perhatian dan satu-satunya otoritas di kelas yang dipandunya. Apa hasilnya? Otoritas tunggal, yang menyampaikan pesan kebenaran yang tunggal akan mengondisikan pembelajar ke arah perkembangan yang sama: semua seragam satu cetakan!

Dalam catatan Prof. Intan Ahmad, sebagian besar mahasiswa kita mengidap lima kelemahan serupa: ketakmampuan menggunakan bahasa Inggris (dan bahasa asing lainnya), ketakmemadaian kemampuan memimpin, ketakmemadaian kemampuan berorganisasi, ketakmemadaian kemampuan berkomunikasi, ketakmemadaian kemampuan berpikir tingkat-tinggi, dan ketakmemadaian pengetahuan dan keterampilan menggunakan IT (informasi dan teknologi). Kelemahan-kelemahan ini merupakan indikator langsung dari kegagalan kegiatan belajar-mengajar di kelas. Karena kelima kemampuan yang disebutkan dirjen Belmawa ini semuanya dapat dilatihkan dalam konteks komunikasi belajar-mengajar (KBM) di kelas.

Misalnya, bahasa Inggris sudah dipelajari ribuan jam sejak SLT sampai PT tetapi, karena tidak ada fokus dan tidak dipraktikkan di kelas, hasilnya nyaris nihil. Kerja kelompok sering dilakukan pembelajar, namun karena tanpa penghayatan yang baik, dampaknya nyaris tak terasa. Kegiatan berorganisasi dilakukan di SD, SLTP, dan SLTA. Namun, karena tidak dihayati dengan baik, dampak berorganisasi nyaris nihil. Pengerjaan soal dilakukan di semua tingkat pendidikan dari SD sampai PT, namun karena desain tugasnya kebanyakan hanya mencakup aspek hafalan, keterampilan berpikir kritis tidak berkembang. Smart phone dan internet sudah merasuk ke dan dipergunakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Namun, karena tidak secara sistematis dikaitkan dengan kegiatan akademik di sekolah dan kampus, para pembelajar tidak dapat secara optimal mengembangkan pengetahuan dan keterampilan IT-nya di dalam konteks akademik. Ini semua—sebenarnya—hasil aktivitas pembelajaran yang terukur dan prediktabel sejak sebelum kegiatan dimulai.

Selain tidak mengena pada sasaran karena kegiatan di kelas melenceng dari tujuan kurikuler dan ruh pedagogi yang diterapkan, misi pengembangan kurikulum nyaris dapat dipastikan gagal terlaksana dengan baik. Apakah pelaksanaan KKNI kemungkinan akan membuahkan hasil yang optimal? Sangat kecil kemungkina berhasil, bila kita masih tetap melihat kegiatan belajar-mengajar, jumlah sks dan komposisi mata ajar dalam kurikulum sebagai formalitas belaka. “Formalitas” di sini dapat berarti “business as usual”—tanpa perbahan sikap dan cara kerja.  KKNI akan memberi kita acuan untuk dapat membandingkan hasil belajar anak-anak Indonesia dengan teman-temannya dari negara lain. Di luar itu, tidak ada jaminan sukses apa pun

Apa yang Harus Kita Lakukan sebagai Negara-Bangsa?

Dirjen Belmawa dengan rasa prihatin membandingkan produktivitas penulisan ilmiah dosen dan mahasiswa Indonesia dengan mitranya di PT tempat lain sesama negara ASEAN. Kinerja akademik dosen dan mahasiswa kita sangat rendah. Apa yang harus dilakukan? Penggenjotan jumlah publikasi dan tulisan ilmiah—dengan mengiming-imingi hadiah uang tunai,misalnya–  tidak akan serta-merta meningkatkan harkat dan wibawa kita di mata masyarakat ASEAN. Dari pada menginvestasikan pada sistem imbalan semacam itu, saya ingin mengusulkan perubahan jangka panjang—evolutif tetapi substantif: merombak praktik pembelajaran baca-tulis-nalar (baca: literasi) dan praktik literasi di sekolah dan kampus.

Pertama, kita harus memahami bahwa membaca itu berlapis-lapis dan lapisan-lapisan ini membentuk hierarki dengan urut-urutan seperti ini: elementary reading ( yang berfokus pada “what the text says”); inspectional reading (yang mengutamakan pemahaman what the text says, dan membaca dengan batasan waktu yang ketat); analytical reading (yang mencakup “what the text says” dan “how the text says it”); dan syntopical reading yang dicirikan dengan penggunaan sumber bacaan yang lebih dari satu dan bertujuan menciptakan pengetahuan baru. Syntopical reading, karena  melibatkan teks yang berfokus pada satu topik tetapi berasal dari sumber yang berbeda-beda, akan memaksa pembaca menyintesiskan informasi dari berbagai sumber yang berbeda untuk pemenuhan suatu tujuan spesifik yang jelas. Pembacaan sintopikal terhadap suatu hal spesifik inilah yang potensial dapat memandu seseorang menjadi penemu sesuatu dalam suatu bidang keilmuan. Hierarki pembacaan teks ini dapat dan perlu diajarkan di sekolah-sekolah dan kampus-kampus.

Kedua, tak seperti kemampuan berbicara yang dapat dipandang sebagai bawaan sejak lahir, menulis—apalagi menulis ilmiah—memiliki konvensi “aturan main”-nya sendiri yang harus dipelajari. Oleh karena itu, kegiatan tulis-menulis ini harus diberi tempat yang proporsional dalam kurikulum. Perlu disadari semua pihak—khususnya yang memimpikan kemunculan generapi penulis jurnal ilmiah—bahwa praktik yang ada selama ini adalah bahwa mahasiswa (dan juga dosen) tipicu untuk menulis ilmiah dalam jurnal tanpa pembekalan yang memungkinkannya dapat menulis dengan percaya diri dan menghasilkan karya yang berterima. Oleh karena itu, ibarat “menembak dalam kegalapan”, kalaupun ikhtiar publikasi ilmiah ini berhasil, sangat sulit keberhasilan tersebut diulangi dengan kans sukses yang tinggi.

Ketiga, diinginkan oleh Presiden bahwa lulusan PT menjadi “penggerak masyarakat” yang kontributif, melalui riset-riset yang dilakukannya, memenuhi kebutuhan masyarakat dan pasar, dan template keberhasilannya dapat direplikasi untuk wilayah lainnya di Indonesia. Ini pengingatan yang jitu dari Pak Presiden Joko Widodo. Oleh Dirjen Belmawa Prof. Intan Ahmad, PhD., pesan baik tersebut diberi aksentiuasi bahwa program studi yang ada di Indonesia seyogiayanya menyesuaikan diri dengan kebutuhan-perkembangan masyarak dan tidak “menjual” program yang tak-berpijak pada kehidupan dan hajat-hidup masyarakat yang menghidupinya. Ini juga gagasan yang patut kita acungi jempol.

Apa yang harus dilakukan untuk memulai mengambil langkah ke arah itu? Kita dapat memulai dengan pengubahan sikap kita (para pendidik) kepada mahasiswa (pembelajar) dengan cara melibatkan mereka ke dalam persoalan riil kehidupan masyarakat yang dianggap para pembelajar ini penting dan bermakna baginya. Berangkatlah dari apa yang dianggap penting oleh pembelajar—itulah salah satu prinsip pedagogi emansipatori. Dari sini para pendidik dapat memulai misi “tut wuri handayani”-nya.

 

Bagaimana Para Pengajar, Pembaca, Penulis dan Peneliti Diinisiasi?

Pengajar, pembaca, penulis, dan peneliti—dalam berbagai variasi bentuk dan kompleksitas perjalanan kehidupannya—pada prinsipnya menyadap berbagai strategi untuk memandu perjalanan perkembangan dirinya melalui proses observasi dan partisipasi dalam kegiatan sosial-fungsional yang melibatkan kegiatan yang dimaksud. Demikianlah, guru menyaksikan bagaimana mentornya mengajar dan berpartisipasi secara sosial dan riil dalam kegiatan belajar-mengajar bersama mentornya itu. Cara yang sama juga diadopsi para pembaca, penulis, dan peneliti: mereka mengobservasi dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan riil dalam kerangka peristiwa membaca, menulis, dan meneliti. Poin pentingnya di sini adalah pembelajar—apa pun yang tengah dipelajarinya—harus diberi kesempatan untuk mengobservasi dan berpartsipasi dengan mentornya melakukan sesuatu yang dianggapnya penting untuk tujuan tujuan kehidupan riil yang bermakna.

Apa yang belum pernah kita lakukan di sekolah dan kampus? Barangkali semuanya telah pernah kita lakukan tetapi dengan cara yang tidak sistematis, dan tidak konsisten dalam rentang waktu yang panjang. Padahal, sistematisitas dan konsistensi inilah yang merupakan tulang-punggung pedagogi emansipatori yang tengah kita mimpikan kehadirannya di ruang-ruang kelas di sekolah dan kampus di Indonesia.

*******

Artikel singkat ini telah berupaya menunjukkan—melalui argumen dan contoh-contoh—bahwa beberapa praktik kultural yang kita lakukan sebenarnya mungkin mengandung ketakakuratan teoretis. Oleh karena itu, tulisan ini juga mengajukan pikiran alternatif untuk dapat ditimbang kemungkinan penerapannya dalam konteks yang lebih luas. Semoga, sebagai pemikiran awal, yang telah disampaikan di sini memberikan kelebatan wawasan awal untuk dikejar lebih jauh dan digali lebih mendalam.

Mudah-mudahan demikian adanya.

******

Artikel ini ditulis untuk dan dimuat dalam KOMUNITA edisi 18/Juni 2016
Bachrudin Musthafa, PhD.

 

Dekan Fakultas Bahasa
Universitas Widyatama, Bandung 40125

 

 

About bachrudinmusthafa 42 Articles
Tercatat dilahirkan pada tanggal 10 Maret 1957 dari pasangan Hj Maemunah dan H. Radi Musthafa (semoga Allah Swt menyayangi mereka berdua), Bachrudin Musthafa sangat betah mempelajari bahasa sejak kecil. Sekolah Dasar (dengan nilai “ujian negara” 100 untuk bahasa Indonesia, dan masing-masing 90 untuk Matematika dan Pengetahuan Umum) sampai Sekolah Menengah Atas diselesaikan di Cirebon, sebelum kemudian hijrah untuk kuliah di IKIP Bandung (1979-1984). Setamat dari prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKSS (kini FPBS) di Kampus Bumi Siliwangi Bandung ini, Bachrudin Musthafa bekerja di Technical Assistance Management Unit (TAMU) di bawah Proyek Bank Dunia XI Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sampai bulan Mei 1990. Bulan Agustus 1990 sampai September 1997 Bachrudin Musthafa menjalani tugas belajar di Amerika Serikat. Program Master diselesaikannya di IUP (Indiana University of Pennsylvania) dengan konsentrasi kepakaran English Rhetoric and Linguistics (1990-1992) dan program doktor dalam bidang Literacy Studies diselesaikannya di The Ohio State University (OSU), Columus, Ohio, USA (1992-1997). Dengan bekal yang dikembangkannya di USA selama tujuah tahun itu, Bachrudin Musthafa selama ini mengajar di prodi Bahasa Inggris jenjang S1, S2, dan S3 dengan spesialisasi dalam Exploring Poetry; Exploring Drama; dan Literary Research (S1); Teaching English to Young Learners; Qualitative Research Methods; dan Qualitative Data Analysis (S2); dan Llanguage Policy & Planning (S3), dan beberapa matakuliah literasi dalam Bahasa Indonesia di program S2 dan S3 Pendidikan Dasar SPs-UPI, Minat keilmuannya berkisar pada literasi dini dan literasi remaja; dan metode penelitian bidang literasi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*