Problematika Pengajaran Bahasa & Sastra Inggris Di Perguruan-Tinggi Di Indonesia*)

ABSTRAK: Pengajaran Bahasa dan Sastra Inggris di Indonesia menyimpan banyak tantangan yang memerlukan penyiasatan yang cerdik bila dikehendaki bahwa pengajaran sastra dapat berfungsi sebagai wahana pencerdasan mahasiswa. Artikel ini membahas berbagai isu dan dilema yang dihadapi program studi bahasa dan sastra Inggris di Indonesia dan mengajukan usulan reorientasi pengajaran sastra ke arah penumbuhkembangan literasi kesastraan. Pertama akan disajikan berbagai pendekatan pembelajaran sastra yang telah lazim diadopsi di Indonesia. Dalam pembahasan pendekatan pembelajaran ini akan ditemukan titik-titik kritis yang menjadi tantangan dan masalah yang harus diatasi. Selanjutnya pembahasan akan difokuskan pada berbagai dilemma krusial dan kemungkinan jalan-keluar yang dapat dipilih, Tulisan ini akan ditutup dengan usulan penggunaan konsep “literasi kesastraan” sebagai fokus pembelajaran sastra Inggris dalam statusnya sebagai bahasa asing di Indonesia.

Kata kunci: literasi kesastraan, sastra Inggris di Indonesia
(* an earlier version of this paper was presented in CONAPLIN international conference—in English—in Bandung, 2015)

PENDAHULUAN

Tak seperti yang terjadi pada pendidikan jenjang sekolah dasar dan menengah yang “dibina” dan “dikontrol” dengan sangat detil, Kemendikbud (cq Ditjen Dikti) hanya memberi rambu-rambu umum tentang matakuliah apa saja (dan apa cakupannya) yang harus dipenuhi program studi (prodi), khususnya yang mengajarkan bahasa dan sastra Inggris sebagai bahasa asing. Kelonggaran ruang gerak ini mungkin menumbuhkan kreativitas bagi sekelompok pengembang prodi bahasa dan sastra Inggris di sejumlah kecil perguruan tinggi di Indonesia. Namun bagi sebagian besar kelompok pengembang prodi di perguruan tinggi yang lainnya, kebebasan ini dapat sangat membingungkan. Gambaran kebingungan massal ini terasa sangat jelas ketika para pimpinan prodi dan fakultas dari 54 perguruan tinggi berbagi masalah dalam acara “Simposium dan Rapat Pembentukan Asosiasi Studi Inggris se-Indonesia” yang diselenggarakan di FIB-UI Depok pada tanggal 11 September 2014 yang lalu.

Pada acara yang diinisiasi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) ini, selain terjadi pembentukan formasi kepengurusan asosiasi prodi Inggris se-Indonesia, juga ada “curhat akademik” di antara para pimpinan prodi Bahasa dan Sastra Inggris. Banyak keluh-kesah terjadi dalam forum intelektual-praktisi pengelola prodi “sastra Inggris” ini.

Pada garis besarnya, masalah utama yang mencuat adalah kegamangan para pengelola program sehubungan dengan keadaan faktual prodinya masing-masing, dan sehubungan dengan gagasan pengaturan yang yang datang dari Ditjen Dikti, termasuk penggunaan nomenklatur penamaan prodi (misalnya “Bahasa dan Sastra Inggris”) dan sebutan gelar lulusannya (yakni “Sarjana Sastra”/SS), dan gradasi akses terhadap fasilitas perizinan dan dukungan dana pengembangan yang datang berbarengan dengan status akreditasi dan komposisi latar pendidikan pengajar dan pengelola prodi Inggris yang beraneka itu.

Artikel ini selanjutnya akan membahas berbagai isu dan dilemma yang berkaitan dengan disparitas kualitas program studi Inggris se-Indonesia yang luas itu. Pertama-tama akan disajikan kelaziman tujuan pengajaran bahasa dan sastra Inggris sebagai bahasa asing di perguruan-perguruan tinggi di Indonesia, dan juga dibahas opsi pendekatan yang tersedia bagi pengajaran sastra Inggris sebagai bahasa asing. Dari sini akan diidentifikasi berbagai isu dan dilema yang merupakan fungsi dari tujuan pengajaran yang beraneka dan pendekatan pembelajaran yang dipilih serta ketersediaan sumber daya (SDM dan berbagai fasilitas fisik dan akademik) yang mendukungnya. Berdasarkan problematika yang dihadapi program studi sastra Inggris dalam ikhtiarnya mengajarkan bahasa Inggris sebagai bahasa asing kepada mahasiswa di Indonesia, usulan kemudian diajukan untuk menggunakan gagasan “literasi kesastraan” (literary literacy) sebagai pemandu pengajaran bagi semua prodi bahasa dan sastra Inggris sehingga misi prodi dapat ditegakkan dan komparabilitas antarprodi bahasa dan sastra Inggris se-Indonesia dapat mulai dibangun.

Artikel lengkap : unduh

About bachrudinmusthafa 42 Articles
Tercatat dilahirkan pada tanggal 10 Maret 1957 dari pasangan Hj Maemunah dan H. Radi Musthafa (semoga Allah Swt menyayangi mereka berdua), Bachrudin Musthafa sangat betah mempelajari bahasa sejak kecil. Sekolah Dasar (dengan nilai “ujian negara” 100 untuk bahasa Indonesia, dan masing-masing 90 untuk Matematika dan Pengetahuan Umum) sampai Sekolah Menengah Atas diselesaikan di Cirebon, sebelum kemudian hijrah untuk kuliah di IKIP Bandung (1979-1984). Setamat dari prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKSS (kini FPBS) di Kampus Bumi Siliwangi Bandung ini, Bachrudin Musthafa bekerja di Technical Assistance Management Unit (TAMU) di bawah Proyek Bank Dunia XI Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sampai bulan Mei 1990. Bulan Agustus 1990 sampai September 1997 Bachrudin Musthafa menjalani tugas belajar di Amerika Serikat. Program Master diselesaikannya di IUP (Indiana University of Pennsylvania) dengan konsentrasi kepakaran English Rhetoric and Linguistics (1990-1992) dan program doktor dalam bidang Literacy Studies diselesaikannya di The Ohio State University (OSU), Columus, Ohio, USA (1992-1997). Dengan bekal yang dikembangkannya di USA selama tujuah tahun itu, Bachrudin Musthafa selama ini mengajar di prodi Bahasa Inggris jenjang S1, S2, dan S3 dengan spesialisasi dalam Exploring Poetry; Exploring Drama; dan Literary Research (S1); Teaching English to Young Learners; Qualitative Research Methods; dan Qualitative Data Analysis (S2); dan Llanguage Policy & Planning (S3), dan beberapa matakuliah literasi dalam Bahasa Indonesia di program S2 dan S3 Pendidikan Dasar SPs-UPI, Minat keilmuannya berkisar pada literasi dini dan literasi remaja; dan metode penelitian bidang literasi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*