Pendampingan

Makna umum kata “pendampingan”  mudah diterka: “kegiatan mendampingi” atau “kegiatan menyertai” sesuatu atau seseorang. Dalam pengertiannya yang umum seperti ini, kata pendampingan tidak istimewa. Dia biasa-biasa saja.  Akan tetapi, sebagai konsep, kata “pendampingan” belum lama hadir  dan dipergunakan dalam diskursus Bahasa Indonesia.  Konsep kata ini menjadi istimewa karena ia mewadahi nuansa-nuansa khusus yang baru, utamanya yang bertalian dengan teori belajar dan teori perkembangan budaya.

Esei pendek ini hendak memosisikan kata “pendampingan” sebagai kata-sakti  dalam kegiatan pendidikan dan pengembangan. Pertama akan didiskusikan berbagai (lapis) makna yang terkandung di dalam kata “pendampingan”  dengan cara menggelarnya dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip pendidikan. Ketika membicarakan prinsip-prinsip kependidikan yang lahir dari konsep “pendampingan” ini, berbagai atribut yang melekat pada konsep ini tersibak dan tampak menonjol. Berbagai petunjuk praktis untuk melaksanakan kegiatan pendampingan yang produktif akan diajukan supaya kegiatan ini membuahkan manfaat optimal.

Yang perlu segera digarisbawahi adalah bahwa “pendampingan” bukanlah konsep statis seperti yang dimaknakan secara umum seperti disiratkan pada paragraf pembuka, melainkan konsep dinamis.  Dalam praktik, kosep pendampingan statis mungkin mewujud dalam serentetan instruksi yang diberikan seorang manajer untuk dilaksanakan secara “membuta”  oleh staf bawahannya. Proses komunikasi satu arah semacam ini bukanlah “pendampingan” yang kita inginkan, karena relasi yang semacam ini tak memberi ruang bagi perkembangan staf yang diposisikan sebagai pelaksana perintah belaka.

Konsep “pendampingan” yang dinamis yang diinginkan adalah kegiatan pendewasaan yang dilandasi niat membimbing dan mengembangkan, dan –-oleh karena itu—proses pelaksanaannya juga diwarnai komunikasi dua-arah. Dalam praktiknya, pendampingan yang dinamis dan berbasis kemaslahatan yang dibimbingnya, yang pertama dilakukan adalah dialog yang sengaja dibanguan antara pihak yang lebih tahu dan mampu (sebut saja mentor) dengan yang pihak yang sedang belajar (mentee) yang dibimbingnya. Dari dialog yang dibangun—yang fungsi utamanya antara lain adalah menjajagi kemampuan awal dan kesiapan mentee untuk menjangkau tahapan kinerja yang lebih tinggi—mentor mendesainkan “rambatan struktural”  (atau scaffolds, dalam nomenklatur social constructivism) yang dapat membantu dan memfasilitasi  mentee untuk mencapai tahapan kinerja lanjut yang diinginkannya. Dengan demikian, projek kegiatan yang dilakukan berada dalam jangkauan-belajar dan cakupan perkembangan mentee,  dan pencapaiannya merupakan sesuatu yang diinginkan yang bersangkutan.

Rambatan struktural yang dimaksud di sini adalah upaya untuk memfasilitasi perkembangan kemampuan dan peningkatan kinerja mentee. Bentuknya dapat bermacam-macam termasuk demonstrasi, penjelasan, contoh-contoh, tugas-tugas, dan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan mentor ; dan semua bentuk scaffolds ini tidak dapat diberikan secara acak dan mana-suka.  Tiga syarat perlu dipenuhi agar dukungan yang diberikan mentor memfasilitasi mentee dalam belajar dan berkembang. Pertama, interaksi antara mentor dengan yang dibimbingnya haruslah bersifat kolaboratif  dalam arti segala sesuatunya disepakati bersama. Kedua, pelajaran atau tugas yang diberikan mentor haruslah berada dalam  zona perkembangan yang dibimbingnya—yakni pada rentang kemampuan yang sedikit saja berada di atas kemampuan awal yang dimiliki mentee. Ketiga, bantuan “rambatan struktural” yang diberikan benar-benar membantu mentee dalam menjalankan apa yang tengah dipelajarinya, dan  bantuan fasilitasi  ini secara berangsur-angsur ditarik kembali ketika mentee mulai terlihat dapat melakukannya secara mandiri.

Dengan demikian, fasilitasi yang efektif harus memenuhi empat hal berikut: (a) tugas yang diberikan kepada mentee harus benar-benar diperlukan dan dipergunakannya untuk memungkinkan yang bersangkutan meningkatkan keterampilan dan kinerjanya —oleh karena itu, tugas itu harus menarik dan mengasyikkan  bagi mentee yang bersangkutan;  (b) agar dapat dengan baik memandu perkembangan yang dibimbingnya, seorang mentor harus mampu mengantisipasi kesulitan dan jenis kesalahan yang mungkin dibuat mentee yang dibimbingnya; (c) selama rentang jalannya pembimbingan, berbagai jenis fasilitasi yang diberikan kepada mentee harus benar-benar diatur dan diperhitungkan urut-urutannya sehingga  benar-benar efektif— yakni, tahapan yang satu menjadi rambatan bagi pencapaian tahapan lainnya yang lebih tinggi; dan (d) pembimbingan didasarkan pada “manajemen rasa dan semangat”  sehingga fluktuasi rasa ingin tahu di suatu sisi dan rasa bosan atau bahkan frustrasi (bila ada) di sisi lain dapat diatur keseimbangannya sehingga rasa ingin meningkatkan diri pada diri mentee dapat secara terus-menerus dipertahankan.

Untuk kepentingan praktis, konsisten dengan yang disuarakan sejumlah literatur otoritatif, dapatlah dirumuskan prinsip-prinsip yang dapat dijadikan pegangan untuk pelaksanaan pendampingan yang memberdayakan pihak yang terlibat di dalamnya  seperti yang dipaparkan berikut.

  • Prinsip pertama: pendampingan (atau bantuan dukungan pengembangan dan peningkatan kinerja) haruslah berfungsi membantu mentee menginternalisasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menunaikan tugas pokok tertentu.
  • Prinsip kedua: pendampingan tidak boleh mencandukan; tidak boleh melenakan; dan tidak boleh menimbulkan ketergantungan. Pendampingan yang baik bersifat sementara dan memampukan yang dibinanya.
  • Prinsip ketiga: pendampingan membebaskan dan memberdayakan. Seusai mengikuti kegiatan pendampingan mentee seyogianya merasa lebih berdaya, lebih lincah, dan lebih kreatif.
  • Prinsip ke-empat: dalam niat dan proses pelaksanaannya, pendampingan harus mengutamakan kemaslahatan mentee yang dibinanya. Oleh karena itu, penampingan berpusat pada kepentingan perkembangan dan peningkatan kinerja mentee.

Dalam keterbatasan ruang dan waktu yang tersedia, esei singkat ini telah memperkenalkan “pendampingan” sebagai konsep dinamis yang tengah digandrungi dalam dunia pendidikan dan pelatihan. Dalam melakukan paparannya, tulisan ini telah pula mengindikasikan atribut apa saja yang perlu ada dan mendasari kegiatan pendampingan yang berdayaguna. Melengkapi paparannya, tulisan ini kemudian secara eksplisit merumuskan empat prinsip pokok yang harus diindahkan pihak yang berkepentingan dalam melakukan kegiatan “pemdampingan” yang—dalam tulisan ini—ditampilkan dalam sisinya yang dinamis, berbasis dialog dan berpusat pada kemaslahatan pihak yang dididik dan dibina.

Semoga ada manfaatnya.

Bachrudin Musthafa
Dekan Fakultas Bahasa UTama
Ditulis untuk KOMUNITA

About bachrudinmusthafa 42 Articles
Tercatat dilahirkan pada tanggal 10 Maret 1957 dari pasangan Hj Maemunah dan H. Radi Musthafa (semoga Allah Swt menyayangi mereka berdua), Bachrudin Musthafa sangat betah mempelajari bahasa sejak kecil. Sekolah Dasar (dengan nilai “ujian negara” 100 untuk bahasa Indonesia, dan masing-masing 90 untuk Matematika dan Pengetahuan Umum) sampai Sekolah Menengah Atas diselesaikan di Cirebon, sebelum kemudian hijrah untuk kuliah di IKIP Bandung (1979-1984). Setamat dari prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKSS (kini FPBS) di Kampus Bumi Siliwangi Bandung ini, Bachrudin Musthafa bekerja di Technical Assistance Management Unit (TAMU) di bawah Proyek Bank Dunia XI Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sampai bulan Mei 1990. Bulan Agustus 1990 sampai September 1997 Bachrudin Musthafa menjalani tugas belajar di Amerika Serikat. Program Master diselesaikannya di IUP (Indiana University of Pennsylvania) dengan konsentrasi kepakaran English Rhetoric and Linguistics (1990-1992) dan program doktor dalam bidang Literacy Studies diselesaikannya di The Ohio State University (OSU), Columus, Ohio, USA (1992-1997). Dengan bekal yang dikembangkannya di USA selama tujuah tahun itu, Bachrudin Musthafa selama ini mengajar di prodi Bahasa Inggris jenjang S1, S2, dan S3 dengan spesialisasi dalam Exploring Poetry; Exploring Drama; dan Literary Research (S1); Teaching English to Young Learners; Qualitative Research Methods; dan Qualitative Data Analysis (S2); dan Llanguage Policy & Planning (S3), dan beberapa matakuliah literasi dalam Bahasa Indonesia di program S2 dan S3 Pendidikan Dasar SPs-UPI, Minat keilmuannya berkisar pada literasi dini dan literasi remaja; dan metode penelitian bidang literasi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*