Kalau Bahasa Inggris Tidak Diajarkan Di Sekolah Dasar

Pro-kontra pendapat tentang pelaksanaan Kurikulum 2013 telah menggiring berbagai pihak untuk menyimpulkan bahwa Bahasa Inggris tidak lagi diajarkan di Sekolah Dasar (SD). Mengapa hal ini terjadi? Apa yang harus kita lakukan sebagai komunitas pembelajar dan pengajar bahasa Inggris?

Terlepas dari benar-tidaknya rencana penghentian pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar, dan terlepas dari  apa yang sebenarnya melatarbelakangi keputusan ini, pengajaran bahasa Inggris di SD tidak bisa dikatakan berhasil.  Ada beberapa alasan mengapa hal ini terjadi. Pertama, sebagai mulok (muatan lokal),  pengajaran bahasa Inggris secara ketat dibatasi jumlah sesinya: maksimum 20 %  saja dari beban keseluruhan kurikulum. Belajar  bahasa asing dalam frekuensi rendah—satu kali satu jam per minggu— bisa dibilang mustahil membuahkan hasil yang baik. Alasan kegagalan ke dua,  guru yang selama ini mengajar bahasa Inggris di SD memang tidak siap untuk mengajar bahasa Inggris untuk tingkat sekolah dasar. Alasannya:  para guru yang defakto selama ini mengajar bahasa Inggris di SD kebanyakan adalah mereka yang tidak pernah disiapkan untuk mengajar anak SD karena ketika kuliah mereka tidak pernah mengambil matakuliah TEYL (Teaching English to Young Learners).

Selain itu,  inisiatif pengajaran Bahasa Inggris di SD tidak ditindaklanjuti  dengan investasi pengembangan staf  pengajar (misalnya melalui kursus atau workshop TEYL) dan tanpa investasi pengembangan materi ajar bahasa Inggris yang dirancang khusus untuk pembelajar usia-muda setingkat murid SD.  Jadi, jelaslah memang pengajaran mulok Bahasa Inggris di SD di kebanyakan kota di Indonesia dirancang untuk gagal. Dan program yang gagal memang sebaiknya dihentikan agar tidak memboroskan sumberdaya yang berharga dan tidak menorehkan jejak kegagalan pada ingatan anak-anak SD. Lantas apa yang harus kita lakukan?

Oleh karena kita meyakini bahwa anak-anak kita memerlukan keterampilan bahasa Inggris sejak usia dini (atau, paling tidak,  sejak tingkat pendidikan SD), kita akan investasikan secara serius dan habis-habisan (all out) sumberdaya yang kita miliki agar anak-anak kita semakin gencar diekspos  dengan bahasa Inggris yang baik. Bahasa Inggris yang baik bagi anak-anak adalah bahasa Inggris yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak-anak yang mempelajarinya. Pengalaman belajar bahasa Inggris yang baik bagi anak-anak adalah pengalaman kontak dengan bahasa Inggris yang menyenangkan, baik karena materinya yang pas dengan selera dan kebutuhan maupun karena cara penyampaian pengajaran yang memikat karena cocok dengan kecenderungan belajar pada anak-anak yang masih berpikir konkret-operasional yang merupakan kelaziman pada anak-anak usia SD.

Kalau di SD sebagai lembaga formal kita tidak menemukan yang baik, pilihan yang tersisa adalah menitipkan anak-anak kita ke lembaga kursus yang secara serius telah menginvestasikan sumberdaya untuk mengembangkan materi belajar yang sesuai selera dan kebutuhan anak-anak, dan yang secara sinambung telah mentraining staf pengajarnya untuk mengkhususkan diri pada pengajaran bahasa Inggris untuk peserta-didik usia anak-anak SD.

Semoga pihak orangtua murid dan pihak pengelola kursus bahasa Inggris  dapat meningkatkan kemitraannya sehingga kedua belah pihak sama-sama merasa diuntungkan dan dapat secara tulus saling-menitipkan diri.

Tetaplah mendukung pengembangan keterampilan bahasa Inggris sejak usia dini karena hal ini menjanjikan kemanfaatan tinggi bagi kebaikan anak-anak kita di masa kini dan mendatang. Selamat bagi Anda yang telah bersetia menitipkan anak-anaknya kepada badan kursus bahasa Inggris ini, dan semoga juga mereka yang belum bergabung segera melakukan hal yang sama.

Sukses selalu. Semoga.

Bachrudin Musthafa
Ditulis untuk New Concept English Education Centre, Jakarta

About bachrudinmusthafa 42 Articles
Tercatat dilahirkan pada tanggal 10 Maret 1957 dari pasangan Hj Maemunah dan H. Radi Musthafa (semoga Allah Swt menyayangi mereka berdua), Bachrudin Musthafa sangat betah mempelajari bahasa sejak kecil. Sekolah Dasar (dengan nilai “ujian negara” 100 untuk bahasa Indonesia, dan masing-masing 90 untuk Matematika dan Pengetahuan Umum) sampai Sekolah Menengah Atas diselesaikan di Cirebon, sebelum kemudian hijrah untuk kuliah di IKIP Bandung (1979-1984). Setamat dari prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKSS (kini FPBS) di Kampus Bumi Siliwangi Bandung ini, Bachrudin Musthafa bekerja di Technical Assistance Management Unit (TAMU) di bawah Proyek Bank Dunia XI Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sampai bulan Mei 1990. Bulan Agustus 1990 sampai September 1997 Bachrudin Musthafa menjalani tugas belajar di Amerika Serikat. Program Master diselesaikannya di IUP (Indiana University of Pennsylvania) dengan konsentrasi kepakaran English Rhetoric and Linguistics (1990-1992) dan program doktor dalam bidang Literacy Studies diselesaikannya di The Ohio State University (OSU), Columus, Ohio, USA (1992-1997). Dengan bekal yang dikembangkannya di USA selama tujuah tahun itu, Bachrudin Musthafa selama ini mengajar di prodi Bahasa Inggris jenjang S1, S2, dan S3 dengan spesialisasi dalam Exploring Poetry; Exploring Drama; dan Literary Research (S1); Teaching English to Young Learners; Qualitative Research Methods; dan Qualitative Data Analysis (S2); dan Llanguage Policy & Planning (S3), dan beberapa matakuliah literasi dalam Bahasa Indonesia di program S2 dan S3 Pendidikan Dasar SPs-UPI, Minat keilmuannya berkisar pada literasi dini dan literasi remaja; dan metode penelitian bidang literasi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*