Pikiran Masa Depan: Gagasan Pokok & Komentar

Dalam bukunya yang terkenal, Five Minds for the Future (Harvard University Press), Howard Gardner (2006) memperkenalkan pikiran masadepan. Tujuan utama esei singkat ini adalah meringkas gagasan baru professor psikologi kognitif itu,  yang sering  disebut-sebut sebagai salah seorang jenius di abad ini.  Sebagai ringkasan, tulisan ini tidak bermaksud mereviu  buku setebal 195  halaman itu.

Dalam buku ini, Howard Gardner mengartikulasikan dengan sangat detil lima pikiran masa depan: disciplined mind, synthesizing mind, creating mind, respectful mind, dan ethical mind. Asumsi dasar yang memandu Gardner adalah bahwa tanpa pikiran yang berpijak kukuh pada disiplin ilmu tertentu, kita sebagai sebagai pribadi dan/atau kelompok hanya akan mampu mengekor orang lain; tanpa pikiran yang mampu menyintesiskan segala bentuk kemajuan dari berbagai sumber kita takkan mampu mengambil manfaat dari informasi yang melimpah-ruah; tanpa kemampuan berpikir yang membuahkan karya baru kita akan tak berdaya dan dikendalikan oleh produk teknologi semisal komputer; tanpa adanya pikiran yang santun kita takkan mampu bersinergi dan menjalin hubungan kerja simbiosis-mutualistis dan karenanya akan terlibat benturan-antarmanusia yang membahayakan semua pihak; tanpa kemampuan berpikir etis ummat manusia akan terjebak dalam cara-pikir dan pola-tindak egoistis yang berbahaya bagi semesta yang melingkupinya.

Menggambarkan jenis-jenis pikiran ini sebagi hierarki, Gardner memaparkan setiap jenis pikiran ini dengan gaya personal-narrative,  yang intisarinya  secara berurutan disajikan dalam esei pendek ini.

Disciplined mind. Ini pikiran yang berbasis pada disiplin-ilmu dan  bidang kepakaran tertentu semisal psikologi, manajemen dan kepemimpinan. Menurut pengalaman Gardner sebagai seorang psikolog, diperlukan sedikitnya sepuluh tahun untuk menginternalisasi dan kemudian mengeksternalisasikan cara berpikir sebagai psikolog. Demikian pula dalam bidang manajemen dan kepemimpinan: pengalaman Gardner  dalam mengelola berbagai proyek penelitian raksasa dan memimpin berbagai kelompok peneliti dalam berbagai megaproyek keilmuan, sekitar sepuluh tahun  pulalah  rentang waktu yang diperlukannya untuk membuatnya mantap sebagai manajer dan sebagai pemimpin.

Menurut Gardner, hasil belajar di kebanyakan institusi persekolahan dan universitasi di muka bumi ini belum mampu membuat lulusannya berpikir disipliner terutama karena cara pengajarannya yang tidak tepat sasaran. Kebiasaan interaksi pembelajaran yang tak menguntungkan ini sangat sulit diperbaiki karena telah berurat-berakar dalam praktik akademik di lembaga pendidikan scara umum di dunia. “The old habits die hard…” kata Gardner (p.24).

Ketakmampuan berpikir “disipliner” ini merugikan kita karena kita menjadi tak berbeda dengan orang yang tak terdidik (unschooled minds) dalam memikirkan dunia fisik, dunia biologis, dunia kemanusiaan kita, dunia kreasi imaginatif, dan dunia bisnis dan kiprah politik kita. Tanpa kemampuan berpikir disipliner kita tak mampu memahami apa yang dikatakan orang lain tentang peristiwa yang sedang terjadi, tentang  temuan ilmiah terbaru, teknik-teknik matematik mutakhir, karya seni masa kini, bentuk-bentuk ekonomi baru, aturan-aturan pemeliharaan lingkungan baru. Akibatnya jelas: tanpa kerangka pikir dan pola-tindakan berbasis disiplin ilmu ini kita tidak mampu merumuskan pendapat secara baik tentang peristiwa hari ini, tahun ini dan abad ini.

Berpikir “disipliner” ini merupakan cara pandang dan kebiasaan berpikir yang unik berbasis keilmuan dan profesi tertentu,  yang baru dapat diperoleh melalui proses pendidikan dan pelatihan yang panjang. Ada empat tahap yang harus dilakukan untuk mulai menumbuhkembangkan cara pandang dan kebiasaan berpikir yang dijagokan Gardner ini. Pertama, kita harus mengidentifikasi konsep dan topik yang benar-benar vital dalam  disiplin ilmu yang diajarkan. Konsep dan topik vital ini dapat mengambil bentuk contents semisal hukum pesediaan dan tuntutan (i.e., laws of supply & demand dalam ekonomi & bisnis) dan juga metodologi (misalnya, bagaimana memahami dokumen asli dan otentik dari masa lalu; bagaimana menganalisis neraca keuangan, dst).

Kedua, pelajari secara mendalam dan sedetil-detilnya hal-ihwal mengenai konsep dan topik vital yang telah dipilih tersebut. Kalau suatu konsep dan topik sudah dipilih maka hal itu harus dipelajari secara mendalam, dalam jangka waktu yang lama, menggunakan banyak contoh dan menggunakan berbagai modus analisis.

Ketiga, dekati konsep dan topik pilihan tersebut dengan berbagai cara. Gardner menegaskan bahwa pemahaman mendalam terhadap suatu konsep dan topik cenderung terjadi setelah konsep dan topik ini disajikan dan diproses melalui berbagai cara termasuk melalui cerita, eksposisi logis, debat, dialog, humor, permainan-peran, representasi grafis, presentasi video dan film, pengejawantahan nilai-nilai, gagasan-gagasan serta  teladan perilaku dan sikap dalam diri seorang tokoh panutan. Cara pengajaran dengan beraneka metode ini mengandung dua keuntungan: dapat menjangkau sebanyak-banyaknya pembelajar  karena kemungkinan besar cara belajarnya dipenuhi, dan para pembelajar terbantu mengonseptualisasikan pemahamannya dalam banyak cara dan modalitas. Kemampuan mengonseptualisasikan gagasan dalam berbagai cara dan bentuk ini merupakan keterampilan vital bagi kemampuan menyintesiskan gagasan dari berbagai sumber.

Keempat, rancang dan ciptakan kesempatan untuk “unjuk pemahaman” (performance of understanding) bagi pembelajar. Kesempatan unjuk-kinerja ini harus diberi waktu yang cukup dan dalam variasi konteks yang berbeda-beda sehingga pemahaman pembelajar dapat benar-benar diberi masukan konstruktif dan teruji dalam konteks yang beraneka. Dengan demikian, melalui rangkaian pengalaman praktik yang panjang dan dengan feedback detil yang memberdayakan, penguasaan bidang-keahlian menjadi lengkap dan kukuh.

Synthesizing mind.  Pikiran yang menyintesiskan adalah pikiran yang mensenyawakan berbagai informasi dan pengalaman dari berbagai sumber untuk membentuk suatu komposit baru yang bermanfaat bagi suatu tujuan yang baru.  Di manapun tempat kerjanya—baik di universitas, di perusahaan maupun di lembaga hukum—tugas seorang manajer adalah mensenyawakan informasi dari berbagai sumber. Misalnya, seorang manajer akan mempertimbangkan tugas yang akan dikerjakannya, memperhitungkan komposisi staf yang ada di sekitarnya beserta kemampuan dan tugas yang kini tengah dilakukannya, dan bagaimana cara terbaik untuk menyelesaikan masalah yang ada di hadapannya dan kemudian berlanjut ke tugas lainnya lagi. Menyintesiskan status keilmuan mutakhir, memasukkan temuan-temuan keilmuan baru, dan menjelaskan berbagai dilemma baru merupakan hal yang tak terpisahkan dari pekerjaan seorang profesional yang berkeinginan berada di baris depan dalam bidang keahliannya.

Menurut Gardner, kemampuan merangkai  informasi dari berbagai sumber ke dalam suatu keseluruhan yang koheren merupakan keterampilan vital pada zaman ini. Mengutip pemenang Hadiah Nobel bidang fisika (Murray Gell-Mann), Gardner menegaskan bahwa kemampuan paling berharga pada abad-21 adalah pikiran yang mampu menyintesiskan dengan baik. Diakui Gardner bahwa untuk sebagian besar orang di muka bumi ini, berpikir sistematis dalam satu disiplin ilmu saja sudah sulit apatah lagi berpikir sistematis dalam sintesis yang nmelibatkan basis keilmuan interdisipliner.

Apa bentuk sintensis yang telah umum dikerjakan manusia sepanjang sejarah? Delapan jenis sintesis diajukan Gardner sebagai contoh seperti yang diringkaskan berikut.

(a) naratif (narrative) berarti cerita.  Melalui rangkaian cerita kita dapat merangkai peristiwa dan relasi antarperistiwa. Melalui cerita manusia di berbagai kultur dapat merangkum nilai-nilai budaya yang hendak dilestarikannya untuk generasi berikutnya. Tak cuma itu. Banyak fakta sejarah dikemas dalam cerita.

(b) taksonomi (taxonomies). Sejumlah materi informasi yang besar dapat diorganisasikan berdasarkan sistem kategori tertentu sehingga dapat dengan mudah dicerna dan diingat. Contoh sangat terkenal adalah sistem kategori keilmuan dan kelompok-kelompok judul buku di perpustakaan yang diatur dengan sistem yang dikembangkan John Dewey. Contoh yang lain adalah sistem penamaan tanaman.

(c) konsep komplek (complex concepts). Gejala yang rumit seringkali muncul dari interaksi berbagai fenomena yang rumit juga. Pembuatan konsep tertentu dapat membuat kerumitan fenomena semacam itu dapat dicerna dengan relaif mudah. Misalnya, dalam bidang bisnis, Michael Porter memahami dan merumuskan strategi sebagai gabungan lima hal, yang secara bersama-sama, menentukan potensi keuntungan.

(d)  aturan dan aforisme (rules and aphorisms). Banyak kearifan orang awam (folk wisdom) dikemas dalam ungkapan yang ringkas dengan tujuan membuat ajaran ini menjadi mudah diingat dan dapat diterapkan secara luas. Misalnya “pikir dulu, baru bicara.”  “Jangan mengajari anak itik untuk berenang.”

(e)  metafor, imaji dan tema (powerful metaphors, images, and themes). Orang dapat menghidupkan konsep-konsep dengan metafora (perumpamaan). Misalnya  Adam Smith menggambarkan sifat “pasar yang mengatur dirinya sendiri”  melalui imaji “tangan yang tak terlihat” (the invisible hand).

(f) pengejawantahan tanpa kata (embodiments without words). Contoh bentuk sintesis tanpa kata, antara lain, adalah lukisan. Perhatikan bagaimana Picasso menggambarkan kekuatan brutal pada Perang Sipil Spanyol melaui lukisan Guernica yang masyhur itu.

(g) teori-teori (theories). Teori merupakan “wadah” yang merangkum berbagai konsep. Misalnya teori  “ekonomi pasar” (market economy) merajut berbagai gagasan, termasuk supply & demand , labor , production , profit, dan loss  (kerugian).

(h) metateori (metatheory). Meta teori adalah teori tentang teori. Ini juga merupakan cara menyintesiskan berbagai konsep dan teori.

 

Creating mind. Pikiran yang mencipta dapat muncul hanya setelah pemahaman mendalam dan kukuh terhadap suatu konsep (atau  topik)  dikuasai. Kalau sebelumnya dikatakan bahwa pikiran sintesis sangat lazim dilakukan para manager; pikiran yang menciptakan sesuatu yang baru pada umumnya muncul pada pemimpin. Synthesizing is the work of manager; and creating is the work of leaders, demikian penjelasan Gardner tentang perbedaan antara pikiran yang menyintesakan dan pikiran yang mencipta. Penciptaan sesuatu yang baru adalah bidang garapan para pemimpin, dan bukan merupakan tanggungjawab para manajer.

Dalam pandangan Gardner pikiran yang mencipta ini baru dimungkinkan apabila kita telah terbiasa berpikir dan bertindak melampaui basis pengetahuan dan sintesis yang telah ada untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan baru, menawarkan solusi-solusi baru, menciptakan sesuatu yang belum ada sebelumnya atau mengembangkan genre tertentu ke arah yang lebih baik. Penciptaan hal baru ini berbasis pada satu atau lebih dari satu disiplin ilmu atau profesi yang telah mapan, karena untuk sampai ke tahap penciptaan ini diperlukan pemahaman bidang disiplin ilmu yang kukuh untuk menimbang kualitas dan keberterimaannya.

Di dalam konteks kelas di lembaga pendidikan formal, pikiran yang mencipta didahului dengan kebiasaan mengerjakan tugas melebihi yang diwajibkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru yang substantif, menghasilkan karya unik yang di luar dugaan tetapi “mengena”  sesuai kaidah-kaidah projek kreativitas. Di dalam dunia pekerjaan, thinking outside the box  pantas dilakukan para pemimpin visioner, yang mampu merumuskan dan menjangkau visi-visi baru yang lebih tepat sasaran.

Respectful mind. Pikiran yang takzim; pikiran yang santun; pikiran yang dilandasi rasa hormat. Dalam kata-kata Gardner sendiri, pikiran berbasis bidang keahlian (disciplined mind),  pikiran yang mensenyawakan (synthesizing mind), serta  pikiran yang mencipta (creating mind) merupakan bentuk pikiran yang berurusan dengan berbagai bentuk kognisi semata; sedangkan dua pikiran yang lainnya (yakni respectful dan ethical minds) “deals with our relation to other human beings” (p.8). Jadi, pikiran yang santun ini merupakan jenis pemikiran tentang sesuatu dalam hubungannya dengan orang lain. Misalnya, pada tahap ini kita berpikir tentang manusia secara umum: bagaimana manusia berpikir, bagaimana manusia merasa, bagaimana manusia termotivasi dalam bekerja—tanpa terkotak-kotak dalam disiplin ilmu dan fungsi jabatan administratifnya. Dalam memikirkan rasa hormat kita kepada manusia secara umum, misalnya, kita melepaskan diri dari stereotype (prasangka) yang mungkin telah terlanjur ada, dan kita menjauhkan diri dari sikap dan perilaku menganggap enteng orang lain. Kita berupaya memikirkan orang lain dalam berbagai kemungkinan konteks dan motifnya dalam mengambil tindakan. Meskipun demikian, Gardner menegaskan, “Respect does not entail a ‘pass’ for terrorist” (hal.8). Jangan salahpahami kesantunan:  terorisme tidak bisa ditolelir. Menakut-natuki dan menekan orang lain merupakan  kejahatan yang nyata.

Dalam pandangan Gardner, pikiran yang takzim dapat berbentuk respons empatis dan konstruktif terhadap berbagai perbedaan yang mengemuka dalam pergaulan antarpribadi dan antarkelompok; dapat berbentuk upaya memahami dan mengulurkan ajakan kerjasama dengan pihak-pihak yang berbeda keterampilan dan orientasi nilai. Dalam konteks belajar di lembaga pendidikan, pikiran yang takzim dapat dipupuk melalui kegiatan kerjasama secara efektif dengan teman sebaya, dengan guru dan staf  tanpa menghiraukan latarbelakang etnik dan pandangan politiknya, Dalam konteks pekerjaan, pikiran yang takzim dapat diasah melalui kegiatan kerjasama yang efektif  dengan rekan sekerja, atasan, bawahan  dan pegawai lainnya tanpa mempesoalkan latar kepangkatan dan status sosialnya. Orang  semacam ini selalu berupaya mengembangkan kapasitasnya untuk mengerti dan memaafkan orang lain.

Ethical mind. Sangat erat berkaitan dengan pikiran yang santun, pikiran yang etis juga ada dalam relasi dengan orang lain. Dalam berupaya bersikap etis, misalnya, seorang individu berupaya memahami peranannya sebagai seorang pekerja atau perannya sebagai anggota warga suatu komunitas, wilayah, negara, serta warga suatu planet.

*****

Apa relevansi gagasan besar Howard Gardner ini dengan kita sebagai negara-bangsa dan sistem pendidikan yang ada di Indonesia? Apa yang harus dilakukan agar Indonesia dapat mengembangkan sumberdaya manusia (SDM) yang lengkap dan kompak sebagai negara-bangsa?

Ruang terbatas pada rubrik ini tidak memungkinkan kita untuk menjawab pertanyaan besar tersebut. Alih-alih mencari jawaban tergesa-gesa, sisa kesempatan dalam tulisan ini akan digunakan untuk mengajak sidang pembaca untuk menghadirkan ke dalam pikiran kita masing-masing gambaran tentang bagaimana interaksi belajar-mengajar umumnya dilakukan di kelas dan ruang  kuliah di sekolah dan kampus di Indonesia. Dengan berbekal gambaran kelaziman yang terjadi di ruang belajar di sesi-sesi pelajaran dan perjuliahan ini, marilah kita jawab pertanyaan berikut.

  • Mungkinkah, dengan cara kita melakukan belajar-mengajar seperti yang lazimnya terjadi sekarang-sekarang ini, kita melahirkan pakar yang handal yang dapat berpikir disipliner?
  • Mungkinkah, dengan cara kita mengelola interaksi belajar-mengajar di sekolah dan ruang kuliah di kampus-kampus seperti yang lazim terjadi sekarang ini, kita dapat menyiapkan para pembelajar yang terampil melakukan sintesis?

Jawaban saya terhadap kedua pertanyaan tersebut negatif adanya. Alasannya  terkandung dalam “bukti” yang dipaparkan berikut. Lihatlah dan cermati silabus dan SAP yang dibuat dan dilaksanakan guru dan dosen di kelas. Hampir pasti kita akan menemukan “acara” yang padat: satu topik baru dibahas dalam setiap sesi. Silabus semacam ini sangat padat dan tidak memungkinkan pembelajar dan instruktur  dapat berkomunikasi dengan detil dan mendalam; pun pihak guru dan dosen tidak akan memiliki kesempatan memadai untuk dapat memberi feedback yang detil, konstruktif, dan kasus-per-kasus. Dalam konteks kelas yang bekerja terburu-buru dan dipadati pembelajar yang kebingungan, kecil kemungkinan terjadi keterlibatan lahir-batin (engagement) yang mendalam. Pemahaman yang sepintas-sepintas dan berada di permukaan tidak mungkin memberikan pijakan yang kukuh untuk tindakan.

Untuk menimbang apakah mungkin pikiran sintesis dapat dibanguan di dalam kelaziman interaksi belajar-mengajar di ruang kelas sekolah dan ruang kuliah di perguruan tinggi di Indonesia, periksalah jenis bacaan yang dijadikan sumber dan tugas yang didesain guru dan dosen untuk “memandu” pembelajar melakukan apa yang (harus) dilakukannya.  Saya  yakin temuan Anda akan sama dengan simpulan saya: pada umumnya sumber bacaannya seragam dan mengandung perspektif tunggal dan tugas yang diberikan kepada pembelajar juga serangam dan mengarahkan pada  perspektif dan hasil belajar yang satu nada, satu arah, dan satu bentuk. Di dalam kelas yang diarahkan ke convergent thinking semacam ini, kecil kemungkinan lahir karya sintesis yang menghendaki eksplorasi berbagai jenis sumber dengan berbagai perspektif yang berbeda. Cara kita mengelola interaksi belajar-mengajar yang seperti ini hanya akan melahirkan para pengekor, dan cara belajar semacam ini musykil mengarah ke penemuan hal-hal baru.

Tanpa bermaksud menciptakan aura pemikiran pesimistis di antara kita, saya berharap agar kita segera dapat melihat celah jalan-keluar yang dapat membawa kita pada perbaikan yang substansial dalam upaya kita mencerdaskan kehidupan bangsa.

Semoga.

Bachrudin Musthafa,
Dekan Fakultas Bahasa UTama
Ditulis untuk KOMUNITA

About bachrudinmusthafa 42 Articles
Tercatat dilahirkan pada tanggal 10 Maret 1957 dari pasangan Hj Maemunah dan H. Radi Musthafa (semoga Allah Swt menyayangi mereka berdua), Bachrudin Musthafa sangat betah mempelajari bahasa sejak kecil. Sekolah Dasar (dengan nilai “ujian negara” 100 untuk bahasa Indonesia, dan masing-masing 90 untuk Matematika dan Pengetahuan Umum) sampai Sekolah Menengah Atas diselesaikan di Cirebon, sebelum kemudian hijrah untuk kuliah di IKIP Bandung (1979-1984). Setamat dari prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKSS (kini FPBS) di Kampus Bumi Siliwangi Bandung ini, Bachrudin Musthafa bekerja di Technical Assistance Management Unit (TAMU) di bawah Proyek Bank Dunia XI Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sampai bulan Mei 1990. Bulan Agustus 1990 sampai September 1997 Bachrudin Musthafa menjalani tugas belajar di Amerika Serikat. Program Master diselesaikannya di IUP (Indiana University of Pennsylvania) dengan konsentrasi kepakaran English Rhetoric and Linguistics (1990-1992) dan program doktor dalam bidang Literacy Studies diselesaikannya di The Ohio State University (OSU), Columus, Ohio, USA (1992-1997). Dengan bekal yang dikembangkannya di USA selama tujuah tahun itu, Bachrudin Musthafa selama ini mengajar di prodi Bahasa Inggris jenjang S1, S2, dan S3 dengan spesialisasi dalam Exploring Poetry; Exploring Drama; dan Literary Research (S1); Teaching English to Young Learners; Qualitative Research Methods; dan Qualitative Data Analysis (S2); dan Llanguage Policy & Planning (S3), dan beberapa matakuliah literasi dalam Bahasa Indonesia di program S2 dan S3 Pendidikan Dasar SPs-UPI, Minat keilmuannya berkisar pada literasi dini dan literasi remaja; dan metode penelitian bidang literasi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*