Mendoktorkan Dosen, Memprofesorkan Doktor, dan Memikirkan Sinyalemen Ditjen Dikti

Mendoktorkan Dosen, Memprofesorkan Doktor, dan Memikirkan Sinyalemen Ditjen Dikti

Dalam pertemuan Forum Doktor UTama yang digelar di Universitas Widyatama Sabtu (30 Oktober 2015) yang lalu, ketua Penyelenggara Pendidikan Universitas Widyatama dengan bangga mengumunkan bahwa universitas ini telah memiliki 40 doktor lulusan universita ternama di luar dan di dalam negeri dan –dalam waktu dekat ini—akan lulus sekitar 40-an lagi doktor baru dari berbagai universitas di luar dan dalam negeri. Kebanggaan Ketua Yayasan Widyatama ini wajar adanya karena di negeri ini doktor merupakan SDM-langka dan untuk mencapai gelar akademik tertinggi itu dosen harus bekerja ekstra keras siang-malam dan dalam rentang waktu tugas belajar (atau izin belajar) yang sangat panjang.

Apakah doktor (sebagai gelar dan capaian akademik tertinggi) itu penting bagi kualitas suatu universitas?  Seberapa penting kehadiran kelompok amat-terdidik ini dalam suatu universitas tergantung pada cara institusi tersebut memanfaatkannya. Selain dapat dibanggakan sebagai pajangan dalam dokumen dan statistik pangkalan data, para cerdik-cendekia ini –-karena pengalaman keilmuan dan kemampuan berpikir sistematiknya—memiliki potensi besar untuk dapat mengembangkan  kualitas program akademik dan mengembangkan sumberdaya yang tersedia pada lembaga yang mewadahinya.

Misalnya, dengan pengaturan penugasan dan penyediaan dukungan fasilitas yang baik, kelompok doktor ini dapat menjamin kualitas program akademik yang dikembangkannya dan layanan keilmuan yang diberikannya di lembaga tempat kerjanya. Dengan demikian—ujung-ujungnya–  keuntungan akan kembali kepada pihak universitas yang memodalinya, karena—ketika khalayak menyaksikan jaminan mutu itu—pada saat yang bersamaan kepercayaan publik kepada universitas yang berasangkutan akan meningkat dan berbagai keraguan yang mungkin pernah ada akan terkikis-sirna. Ketika berbagai macam potensi kreativitas akademik tenaga amat-terdidik ini bersinergi untuk memecahkan masalah yang telah dengan baik diidentifikasi, dan menciptakan program-program terobosan yang diperlukan untuk menciptakan kemaslahatan bersama, kemanfaatan lembaga dan yayasan yang mendukungnya akan menjadi menonjol dan Indonesia sebagai negara-bangsa akan mencatat dan membanggakan kehadirannya.

Apakah pendidikan doktor akan secara serta-merta membuat dosen cakap mengajarkan bidang keahliannya kepada mahasiswa yang diajarnya? Tidak ada jaminan ke arah ini. Sinyalemen beberapa pejabat Ditjen Dikti malah mengisyaratkan sebaliknya. Yakni, banyak kesaksian mahasiswa yang menunjukkan bahwa kelas yang diampu para doktor (yang pada umumnya sibuk di luar) cenderung terlantar. Barangkali karena sinyalemen inilah para doktor perlu segera diprofesorkan.

Bagaimana doktor dapat diprofesorkan? Bagaimana para ilmuwan bergelar doktor ini dapat disiapkan dan dioptimalkan dalam perannya sebagai tenaga pengajar? Sepintas pertanyaan ini mungkin terasa mengada-ngada: bagaimana seorang ahli (bidang studi tertentu) masih perlu diajari bagaimana mengemas bidang keahliannya untuk keperluan membelajarkan mahasiswa? Tetapi sejatinya memang tidak ada jaminan seorang doktor dapat mengajarkan dengan baik bidang keahliannya kepada mahasiswa karena bidang keahliannya (yang dikenal dengan content knowledge) perlu terlebih dahulu dikemas menjadi “materi ajar” (pedagogical content knowledge) sebelum dapat disampaikan kepada peserta didik dengan pendekatan dan teknik tertentu (instructional approaches and techniques). Seluruh proses mengonversikan bidang-keahilan ke dalam bentuk materi ajar yang dapat dicerna mahasiswa ini pada umunya  berada di luar wilayah bidang keahlian doktor yang kita bicarakan ini (kecuali bagi mereka yang bidang kedoktorannya berada pada wilayah teaching and learning).

Mengapa selama ini kita seperti memelihara asumsi yang salah bahwa perolehan gelar doktor identik dengan peningkatan kecakapan pengajaran? Mungkin karena kebanyakan di antara kita—diam-diam– menganggap bahwa pengetahuan bidang studi cukup memadai sebagai modal mengajar. Pernyataan ini baru separuh benar—kebenaran separuhnya yang lain adalah bahwa pengajaran yang baik baru terjadi apabila pengajar mengetahui materi apa yang harus diajarkan dan berketerampilan untuk  mengajarkannya kepada peserta didik.

Mengingat alasan bahwa kebanyakan doktor dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas-tugas nonpengajaran sehingga kelasnya menjadi terlantar, dan para doktor ini belum berkesempatan mempelajari  berbagai cara yang ampuh untuk mengajarkan bidang keahliannya kepada mahasiswa, gagasan untuk “memprofesorkan doktor”—dalam arti membuat mereka pandai mengajar–menjadi keniscayaan. Perguruan Tinggi—dengan kata lain—harus mengambil langkah menyiapkan para doktor untuk belajar menjadi pengajar yang baik.

Kalau langkah “profesorisasi doktor” ini dilakukan, maka SDM-amat-terdidik yang dimiliki universitas akan menjadi lebih optimal kinerjanya: lincah sebagai ilmuwan, piawai sebagai pengajar dan empatis serta tulus dalam mengabdikan keahlian dan kinerja akademiknya kepada masyarakat luas melalui pelaksanaan Tri Dharma perguruan tinggi yang telah lama dihayatinya sebagai perangkat hak dan kewajiban yang melekat pada perannya sebagai dosen perguruan tinggi.

Kalau Ditjen Dikti telah menyadari bahwa “meminjam” doktor ke perguruan tinggi untuk pelaksanaan tugas-tugas nonpengajaran telah mengakibatkan keterlantaran mahasiswa di kampus-kampus, direktorat jenderal perguruan tinggi dan lembaga-lembaga negara sejenisnya harus mulai merencanakan skema pengembangan staf sendiri yang lebih baik sehingga lembaga tinggi negara ini sesegera mungkin memiliki tenaga ahli (baca: doktor) sendiri sehingga dapat mendesain dan menerjemahkan keperluan pengembangan program sendiri tanpa terlalu banyak tergantung pada para dosen perguran tinggi. Dengan cara ini—pada jangka pangjangnya—institusi tingkat nasional di Indonesia memiliki think tank sendiri dan—dengan cara ini—secara lahir-batin dapat mengambil tanggungjawab yang tuntas dalam kegiatan pengembangan dan pelaksanaan sistem pendidikan yang berskala nasional.

Semoga kelembagaan kita secara keseluruhan semakin tumbuh mendewasa dan mampu mengembangkan diri secara komprehensif dan masif.

Bachrudin Musthafa, MA, PhD.
Dekan Fakultas Bahasa, Universitas Widyatama Bandung
Ditulis untuk KOMUNITA

About bachrudinmusthafa 42 Articles
Tercatat dilahirkan pada tanggal 10 Maret 1957 dari pasangan Hj Maemunah dan H. Radi Musthafa (semoga Allah Swt menyayangi mereka berdua), Bachrudin Musthafa sangat betah mempelajari bahasa sejak kecil. Sekolah Dasar (dengan nilai “ujian negara” 100 untuk bahasa Indonesia, dan masing-masing 90 untuk Matematika dan Pengetahuan Umum) sampai Sekolah Menengah Atas diselesaikan di Cirebon, sebelum kemudian hijrah untuk kuliah di IKIP Bandung (1979-1984). Setamat dari prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKSS (kini FPBS) di Kampus Bumi Siliwangi Bandung ini, Bachrudin Musthafa bekerja di Technical Assistance Management Unit (TAMU) di bawah Proyek Bank Dunia XI Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sampai bulan Mei 1990. Bulan Agustus 1990 sampai September 1997 Bachrudin Musthafa menjalani tugas belajar di Amerika Serikat. Program Master diselesaikannya di IUP (Indiana University of Pennsylvania) dengan konsentrasi kepakaran English Rhetoric and Linguistics (1990-1992) dan program doktor dalam bidang Literacy Studies diselesaikannya di The Ohio State University (OSU), Columus, Ohio, USA (1992-1997). Dengan bekal yang dikembangkannya di USA selama tujuah tahun itu, Bachrudin Musthafa selama ini mengajar di prodi Bahasa Inggris jenjang S1, S2, dan S3 dengan spesialisasi dalam Exploring Poetry; Exploring Drama; dan Literary Research (S1); Teaching English to Young Learners; Qualitative Research Methods; dan Qualitative Data Analysis (S2); dan Llanguage Policy & Planning (S3), dan beberapa matakuliah literasi dalam Bahasa Indonesia di program S2 dan S3 Pendidikan Dasar SPs-UPI, Minat keilmuannya berkisar pada literasi dini dan literasi remaja; dan metode penelitian bidang literasi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*