Pengajaran Strategis Dan Kreatif Di Perguruan Tinggi: Urgensi, Potensi, Tantangan Dan Usulan Instruksional

Pengajaran Strategis Dan Kreatif Di Perguruan Tinggi: Urgensi, Potensi, Tantangan Dan Usulan Instruksional

Praktik kependidikan di Perguruan Tinggi (PT) Indonesia umumnya masih berpusat pada faktafakta, penghafalan, penanaman keterampilan dasar, dan penentuan hasil capaian belajar melalui tes. Praktik semacam ini tidak memadai lagi untuk memenuhi tuntuan kehidupan abad 21 yang menghargakan tinggi kreativitas dan keterampilan inovasi [1] (Trilling & Fadel, 2009), karena pada abad ini sumberdaya manusia terdidik dituntut untuk secara terus-menerus menciptakan layanan-layanan baru, proses-proses bisnis yang lebih baik, dan produk-produk yang lebih unggul untuk ekonomi global dan pasarkerja kreatif yang menjanjikan penghasilan tinggi. Kreativitas dan keterampilan inovasi semacam ini tidak dapat dengan serta-merta dilatihkan di kelas-kelas di kampus melainkan
harus terlebih dahulu dikembangkan dan diuji melalui serangkaian proses dan kegiatan strategis yang memerlukan eksperimentasi dan penajamanan berkelanjutan.

Makalah ini selanjutnya akan memusatkan diri pada pengajaran alternatif yang mengedepankan strategi dan kreativitas sebagai capaian utama pendidikan di perguruan tinggi (PT) dengan, pertama-tama, mendiskusikan apa itu strategi dan kreativitas dan apa signifikansi kedua konsep besar ini bagi keberhasilan pendidikan dan pengajaran di abad 21 ini. Selanjutnya, makalah ini akan mengelaborasi dengan contoh-contoh konkret sejumlah potensi besar manfaat yang akan dapat dipetik sebagai hasil dari lahirnya generasi baru lulusan PT yang strategis dan kreatif. Untuk tidak menimbulkan ilusi “pemikiran sim-salabim” (atau magical thinking), berbagai persyaratan dan tantangan kependidikan akan didiskusikan, dan kemudian diikuti dengan serangkaian proposal praktis untuk memandu rencana dan proses pelaksanaan pemgajaran berbasis strategi dan kreativitas.

STRATEGI DAN KREATIVITAS: BATASAN DAN SIGNIFIKANSI

Strategi merupakan ciri cara berpikir dan cara kerja pakar. Sumberdaya manusia Indonesia yang terdidik harus berpikir dan bekerja strategis seperti layaknya seorang pakar. Strategi dapat dipandang sebagai serangkaian kegiatan yang secara sengaja dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu [2] (Paris, Wasik, dan Turner, 1991). Sebagai cara pencapaian sesuatu, strategi dapat dievaluasi kegunaan dan keefektivannya. Suatu strategi dapat diujicobakan dan dinilai efektivitasnya setelah diujikan dalam konteks realitas empiris.Strategi yang telah terbukti efektif dapat “disimpan” dalam perbendaharaan cerita sukses; strategi yang sebagiannya mengandung masalah dicatat untuk diperbaiki pada kesempatan berikutnya; strategi yang tidak jalan seperti yang diharapkan dicatat untuk dikaji ulang untuk pembelajaran di masa datang.

Pengajaran bebasis-strategi mengajak pesertadidik untuk merumuskan tujuan pembelajaran tertentu dan, kemudian, menentukan (dari berbagai pilihan yang ada) strategi mana yang hendak digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukannya itu. Keberhasilan penggunaan strategi yang dipilih untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sendiri ini dapat dievaluasi sendiri oleh peserta-didik: apa yang telah bekerja sesuai harapan; apa yang perlu ditingkatkan efektivitasnya; dan bagian mana yang sama-sekali tak berdayaguna dan—karenaitu—perlu dicampakkan dan diganti di masa datang.

Dengan cara seperti ini, para peserta-didik diposisikan sebagai pembelajar aktif yang menentukan sendiri tujuan belajar dan strategi pencapaiannya. Dengan cara terlibat langsung dalam kegiatan eksperimentasi penyusunan strategi dan pengevaluasian efektivitas penggunaan strategi yang dipilihnya itu, para peserta-didik dibiasakan terlibat dalam berinovasi dalam kegiatan belajarnya. Kriteria utama keberhasilan belajar dalam pembelajaran berbasis strategi ini bukanlah seberapa jumlah strategi yang dikuasai peserta-didik tetapi seberapa tepat pilihan strategi yang dibuatnya itu untuk mencapai setiap tujuan spesifik yang telah dirumuskannya sendiri itu. Dengan demikian, cara belajar strategis tidak mengandalkan pada penghafalan informasi (atau fakta-fakta) tetapi lebih bertumpu pada observasi dan telaah komprehensif terhadap konteks pencapaian tujuan spesifik dan karakteristik yang melekat pada strategi yang ada dalam kontrol desain dan pilihannya.

Tak berlebihan kiranya kalau dikatakan bahwa pembelajar yang strategis dapat menentukan nasibnya sendiri dan selalu terdorong untuk berinovasi karena menyadari perubahan cepat yang senantiasa terjadi dalam konteks yang dihadapinya dari waktu ke waktu, seperti yang melekat pada kehidupan abad ke-21 ini.

Kalau strategi dipahami sebagai sarana mencapaian sasaran dan, oleh karena itu bersifat terikat-tujuan dan fleksibel, kreativitas dapat menyandang sejumlah atribut yang berbeda-beda. Pertama, kreativitas dapat dipahami sebagai kecenderungan pada diri seseorang untuk mengeluarkan atau mengenali gagasan-gagasan, alternatif-alternatif , atau kemungkinankemungkinan yang potensial bermanfaat untuk menyelesaikan masalah, berguna untuk dikomunikasikan kepada sesama yang berkepentingan, dan berharga untuk menghibur diri dan orang lain. Kreativitas adalah tindakan mengubah gagasan baru menjadi realitas. Kreativitas ditandai oleh kemampuan melihat
sesuatu dengan cara baru dengan menggunakan berbagai perspektif yang berdeda-beda, menangkap adanya pola yang tersembunyi, dan menghubungkan berbagai hal yang sepintas tampak tak berkaitan sama-sekali, dan merumuskan solusi-solusi terhadap masalah yang telah teridentifikasi.

Selain itu, kreativitas dapat juga dipandang sebagai proses menciptakan sesuatu ke dalam realitas baru. Kreativitas semacam ini mempersyaratkan adanya rasa cinta (passion) dan komitmen yang tinggi terhadap bidang yang digarapnya. Apa yang disebut kreatif merupakan perkawinan antara buah pikir seseorang dengan konteks yang dihadapinya. Sesuatu yang dihargakan tinggi sebagai buah kreativitas di suatu masa dan tempat tertentu bisa saja dipandang sepele atau bahkan dinistakan di tempat lain di masa yang lain.

Kemampuan berpikir kreatif merupakan komposit dari keterampilan yang jamak. [3]Sternberg dan Williams (2003) menyebutkan tiga jenis keterampilan yang secara bersama-sama menyokong keterampilan berpikir kratif: kemampuan menyintesiskan, kemampuan menganalisis, dan kemampuan berpikir dan bertindak praktis. Kreativitas menghendaki proporsi yang imbang dari ketiga cara berpikir ini.

Selain kreativitas sebagai proses dan produk tindakan, krativitas juga merupakan buah sikap. Sikap kreatif, menurut Schank[3] (dalam Sternberg & Williams 2003), sama penting dengan keterampilan berpikir kreatif.

Pengajaran keterampilan berpikir dan bersikap kreatif, bila dilakukan dengan baik, dapat diharapkan melahirkan lulusan yang memiliki cara pandang yang orisinal, keterampilan berpikir yang berguna dan tepat-konteks, dan sikap yang fleksibel karena mereka dipandu orientasi pandangan yang tak henti mempertanyaakan diri dan senantiasa mencari yang paling tepat dan maslahat bagi lingkungan serta zamannya.

Artikel lengkap: unduh di sini.

About bachrudinmusthafa 42 Articles
Tercatat dilahirkan pada tanggal 10 Maret 1957 dari pasangan Hj Maemunah dan H. Radi Musthafa (semoga Allah Swt menyayangi mereka berdua), Bachrudin Musthafa sangat betah mempelajari bahasa sejak kecil. Sekolah Dasar (dengan nilai “ujian negara” 100 untuk bahasa Indonesia, dan masing-masing 90 untuk Matematika dan Pengetahuan Umum) sampai Sekolah Menengah Atas diselesaikan di Cirebon, sebelum kemudian hijrah untuk kuliah di IKIP Bandung (1979-1984). Setamat dari prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKSS (kini FPBS) di Kampus Bumi Siliwangi Bandung ini, Bachrudin Musthafa bekerja di Technical Assistance Management Unit (TAMU) di bawah Proyek Bank Dunia XI Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sampai bulan Mei 1990. Bulan Agustus 1990 sampai September 1997 Bachrudin Musthafa menjalani tugas belajar di Amerika Serikat. Program Master diselesaikannya di IUP (Indiana University of Pennsylvania) dengan konsentrasi kepakaran English Rhetoric and Linguistics (1990-1992) dan program doktor dalam bidang Literacy Studies diselesaikannya di The Ohio State University (OSU), Columus, Ohio, USA (1992-1997). Dengan bekal yang dikembangkannya di USA selama tujuah tahun itu, Bachrudin Musthafa selama ini mengajar di prodi Bahasa Inggris jenjang S1, S2, dan S3 dengan spesialisasi dalam Exploring Poetry; Exploring Drama; dan Literary Research (S1); Teaching English to Young Learners; Qualitative Research Methods; dan Qualitative Data Analysis (S2); dan Llanguage Policy & Planning (S3), dan beberapa matakuliah literasi dalam Bahasa Indonesia di program S2 dan S3 Pendidikan Dasar SPs-UPI, Minat keilmuannya berkisar pada literasi dini dan literasi remaja; dan metode penelitian bidang literasi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*